Tentang Kami
Dihasilkan di Tempat Paling Alami di Dunia
Telah ditemukan, satu lagi jenis kopi spesial. Koperasi-koperasi petani di daerah dataran tinggi Papua menghasilkan kopi Arabika beraroma yang memiliki body yang heavy untuk tujuan pasar internasional.
Papua adalah pulau kedua terbesar di dunia. Terbentuk 40.000 tahun yang lalu, ketika permukaan laut naik dan tanah genting yang menghubungkannya dengan Australia tertutup. Bagian Barat pulau Papua berada dibawah kedaulatan negara Indonesia, dan dulu lebih dikenal sebagai “Irian Jaya”. Sekarang, wilayah tersebut dikenal sebagai Papua, dan terbagi menjadi dua propinsi - Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat. Bagian timur dari pulau Papua adalah negara berkedaulatan penuh, Papua New Guinea.
Keragaman hayati dari pulau ini sungguh luar biasa. Wilayah pulau Papua hanyalah 0,5% dari keseluruhan wilayah daratan dunia, namun lebih dari 5% spesies hayati di dunia hidup di wilayah ini. Terdapat lebih dari 20.000 spesies serangga, 20.000 spesies tumbuhan dan 650 spesies burung yang hidup di Papua, dan sebagian besar diantaranya tidak ditemukan di wilayah lain. Jumlah spesies-spesies Papua tersebut terus bertambah sejalan dengan lebih banyak lagi wilayah-wilayah yang baru dieksplorasi untuk pertamakalinya.
Keragaman budaya diantara penduduk Papua juga sangat menarik. Ada lebih dari 1.000 bahasa daerah yang digunalan di Papua. Sebagian besar dari kelompok-kelompok etnis disana masih menjalankan kehidupan tradisional mereka, yang mengandalkan gabungan kegiatan berburu dan pengumpulan dengan bercocok tanam di wilayah-wilayah terbuka di tengah hutan. Diperkirakan hingga saat ini masih ada kurang lebih 50 kelompok etnis yang belum pernah berinteraksi dengan peradaban barat. Papua sungguh adalah salah satu wilayah paling alami yang masih ada di dunia.
Di ketinggian pegunungan Papua, petani-petani kecil menanam salah satu jenis kopi Arabica yang paling langka dan paling beraroma di dunia. Para petani tersebut tinggal di wilayah Lembah Baliem, dekat kota Wamena dan di Lembah Kamu yang terletak tidak jauh dari kota Moanemani. Kota-kota tersebut tidak memiliki akses jalan darat, sehingga setiap orang dan setiap barang harus didatangkan dengan berjalan kaki atau melalui jalur udara. Kedua wilayah tersebut berada di ketingggian 1.400 dan 2.000 meter di atas permukaan laut, yang merupakan kondisi ideal untuk produksi Arabika.
Tanahnya merupakan tanah vulkanik, yang sama sekali belum tersentuh pupuk dan pestisida. Semua jenis kopi yang ditanam adalah kopi Arabika (varietas Linie S.) dan ditanam di perkebunan-perkebunan berukuran kecil, yang tersembunyi dibawah rindangnya pohon-pohon hutan tropis berusia tua. Panen kopi dilakukan antara bulan Mei dan September, untuk kemudian diolah oleh koperasi-koperasi petani dengan menggunakan teknik wet hulling yang unik (yang disebut juga sebagai semi-washed).
Dengan teknik tersebut, para petani mengupas kulit luar buah secara mekanis, dengan menggunakan mesin pengupas tradisional, yang disebut luwak. Biji kopi, yang masih bersalut getah tersebut kemudian disimpan selama satu hari. Setelah disimpan, biji kopi dibersihkan dari getah dan dikeringkan. Setelah kering biji kopi tersebut siap untuk dijual. Koperasi-koperasi kemudian mengupas kulit biji kopi dalam keadaan setengah basah, dan perlakuan tersebut menghasilkan tampilan biji berwarna hijau kebiruan yang unik. Proses ini mengurangi tingkat keasaman dan meningkatkan body, menghasilkan kopi yang memiliki body yang heavy, earthy dan chocolate notes dan finish beraroma rempah.
Saat ini, produksi Arabika Papua hanya sebanyak 230 ton per tahun, sehingga hanya sejumlah kecil orang saja yang berkesempatan untuk mencicipi rasa kopi yang luar biasa ini. Kornel Gartner dari program AMARTA menjalin kerja sama dengan koperasi petani Papua untuk meningkatkan produksi, sambil tetap mempertahankan kualitas produk mereka.



